Rabu, 31 Desember 2025

Chapter 5

Malam tahun baru yang sedih, tapi membanggakan.

31 Desember 2025.
Hari di mana aku memutuskan untuk tidak merayakan tahun baru dan memilih diam di kamar kosan.

Nggak ada rencana pesta. Nggak ada kembang api dari jarak dekat. Niatku cuma satu: menghabiskan malam dengan menonton, lalu tidur.

Tapi suara gemuruh kembang api dari luar perlahan memanggil. Ada naluri kecil di dalam diri yang berbisik,“Keluar sebentar aja.”

Akhirnya aku melangkah ke balkon lantai 4, berharap bisa menikmati kembang api dari kejauhan.

Namun ternyata aku tidak sendirian. Seorang gadis datang dengan perasaan yang sama.

Kami saling menyapa, lalu saling menguatkan. Sedih karena sama-sama sendirian, tapi Tuhan mempertemukan kami untuk menikmati malam penuh kembang api bersama.

Kami tertawa dan menangis di waktu yang sama. Saling bercerita tentang perjalanan hidup di 2025
yang terasa begitu melelahkan. Dan akhirnya, kami berdoa bersama untuk kelancaran dan kebaikan di tahun 2026.

Sedih?
Iya, sedikit.

Karena ada fase hidup di mana kita sadar: nggak semua momen harus dirayakan rame-rame.Tapi di saat yang sama, aku juga bangga:

Bangga karena aku cukup dewasa untuk tahu apa yang aku butuhkan.
Bangga karena aku nggak memaksakan diri untuk terlihat “bahagia”.
Bangga karena Tuhan tidak membiarkanku sendirian.

Mungkin ini bukan tahun baru yang paling meriah. Tapi menurutku ini adalah tahun baru yang paling jujur

Happy New Year💖

Tidak ada komentar:

Posting Komentar